5 Tahap Perencanaan Keuangan Bagian (2)

Thursday, 3 May 2012

Sebelumnya saya telah membahas mengenai tahap pertama(menentukan tujuan keuangan). Dalam kesempatan ini, saya akan membahas tahap kedua dari perencanaan keuangan,
yaitu Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.

Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang

Pernahkah Anda melihat denah informasi di pusat perbelanjaan? Biasanya denah ini menggambarkan struktur dari bangunan yang bersangkutan beserta daftar nama toko yang beroperasi di pusat perbelanjaan tersebut.

Nah, tahukah Anda apa salah satu unsur dari denah tersebut yang paling penting buat Anda? Setiap kali Anda melihat denah,Anda harus mencari tanda "ANDA SEDANG BERADA DISINI". Dengan adanya tanda tersebut, maka Anda dapat mengetahui posisi Anda
dalam denah tersebut. Tanpa ada tanda "ANDA SEDANG BERADA DISINI", denah ini tidak akan berguna buat Anda walaupun Anda menghafal mati isi denah tersebut.

Sama halnya dengan keuangan. Setelah merumuskan tujuan keuangan yang ingin Anda capai, Anda harus mengetahui dimana posisi keuangan Anda pada saat ini. Setelah mengetahui posisi keuangan sekarang, dan mengetahui tujuan yang hendak kita tuju, barulah kita bisa membuat rencana untuk kehidupan finansial kita.

Bagaimana cara mengetahui posisi keuangan kita pada saat ini?
Nah, untuk mengetahui posisi keuangan untuk pribadi atau keluarga dengan bantuan 2 laporan, yaitu laporan kekayaan bersih (neraca) dan laporan arus kas.

1. Laporan Kekayaan Bersih (Neraca)

"Lahan tetangga kelihatan lebih hijau". Istilah ini pasti sudah
sering terdengar dalam pergaulan kita. Apa maksudnya? Misalkan saja
begini. Anda melihat ke salah satu tetangga Anda. Rumahnya sangat
besar. Ada kolah renang di dalamnya. Mobil koleksinya saja ada 5,
semuanya merk terkenal. Wuah, dalam pikiran Anda, orang ini PASTI
ORANG KAYA. Padahal, disini Anda hanya melihat tetangga Anda dari
sisi harta saja. Sebenarnya tetangga ini belum tentu lebih
kaya dari Anda.

"Bagimana mungkin orang yang memiliki harta sebanyak itu BUKAN
ORANG KAYA?" Eits, jangan salah! Di jaman yang serba canggih ini,
segalanya bisa dibayar secara kredit. Rumah bisa dibeli pakai kredit,
mobil juga. Bahkan kebutuhan sehari-hari saja bisa hutang dulu
melalui kartu kredit. Kemudahan kredit ada dimana-mana.

Nah, untuk melihat apakah seseorang itu benar-benar kaya atau tidak,
kita harus menghitung jumlah hartanya dikurangi dengan jumlah
hutangnya. Misalkan Mr. X memiliki mobil Kijang yang nilainya
sekitar Rp. 150.000.000,-. Mobil ini dibelinya secara kredit,
dengan sisa angsuran Rp. 8.000.000,- sebanyak 10 kali.

Jadi kekayaan Mr.X yang sebenarnya dari mobil Kijangnya adalah:
= Rp. 150.000.000,- - (10 x Rp. 8.000.000,-)
= Rp. 70.000.000,-

Nilai ini biasanya disebut dengan nama kekayaan bersih. Kekayaan
bersih menggambarkan nilai kekayaan yang sebenarnya dari seseorang.
Cara menghitungnya cukup sederhana, jumlahkan semua harta Anda
lalu kurangi dengan jumlah seluruh hutang Anda.

Laporan Kekayaan Bersih merupakan potret dari kondisi keuangan
Anda pada saat itu. Dalam kondisi normal, nilai kekayaan bersih
seseorang adalah:
= Usia x penghasilan tahunan / 10

Misalkan Mr.X berpenghasilan Rp. 60.000.000,- per tahun, sementara
umurnya adalah 30 tahun, maka seharusnya nilai kekayaan bersih
Mr.X adalah:
= 30 x Rp. 60.000.000,- / 10
= Rp. 180.000.000,-

Apabila setelah dihitung-hitung, ternyata nilai kekayaan bersih pada
laporan Mr.X berada dibawah Rp. 180.000.000,-, berarti Mr. X tidak
dapat mengelola keuangan pribadinya dengan baik. Disarankan Mr. X
menghubungi perencana keuangan untuk mendapatkan konsultasi mengenai
cara-cara mengelola keuangan.

2. Laporan Arus Kas

Kalau kita hendak membicarakan arus kas, kita mesti membayangkan
sebuah ember yang bagian bawahnya penuh dengan lubang. Kemudian
bayangkan apabila ada air yang dituangkan dari atas ember. Apa yang
terjadi? Untuk sementara ember akan menampung air tersebut, namun
hal ini tidak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, air akan keluar
melalui lubang-lubang pada bagian bawah ember.

Nah, dalam perumpamaan ini, kita adalah ember yang bocor. Sementara
air adalah uang. Setiap bulan kita menerima gaji. Dalam perumpamaannya,
setiap bulan ember diisikan dengan air. Namun, karena embernya bocor,
perlahan-lahan air keluar dari lubang-lubang bagian bawahnya. Begitu
juga dengan kita. Uang akan keluar dari kantong kita melalui pos-pos
pengeluaran, seperti untuk makanan, biaya perumahan, transportasi,
pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain.

Sekarang pertanyaannya, berapa lama uang akan mengendap dalam kantong
kita? Lubang pengeluaran mana yang paling banyak menghabiskan uang
kita? Seberapa banyak dari uang kita yang sanggup kita tabung atau
investasikan untuk keperluan di masa depan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti inilah, maka kita
membuat laporan arus kas.

Secara umum laporan arus kas terdiri dari 2 bagian, yaitu Arus Kas Masuk (pendapatan), dan Arus Kas Keluar (pengeluaran). Pada bagian Arus Kas Masuk, kita menuliskan pendapatan-pendapatan kita seperti gaji, tunjangan, bonus, atau mungkin ada pendapatan dari pekerjaan
sampingan.

Sementara pada Arus Kas Keluar terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah pengeluaran untuk tabungan atau investasi. Bagian keduanya adalah pengeluaran untuk biaya tetap (biaya yang setiap bulan harus kita bayar dalam nilai yang sama), misalnya KPR, KPM, iuran TV, Premi Asuransi, dan lain-lain. Sementara bagian ketiga adalah pos-pos pengeluaran kita seperti makanan, pakaian, transportasi,
hiburan, kesehatan, pendidikan, pembayaran kartu kredit dan lain-lain.

Ingat, prinsip dasar dari keuangan adalah "Pendapatan harus lebih
besar daripada pengeluaran"
. Apakah hal ini benar-benar terjadi
pada arus kas Anda?

Rasio Keuangan

Setelah membuat kedua jenis laporan diatas, kita dapat melakukan analisa terhadap kondisi keuangan kita melalui rasio-rasio keuangan. Ada 8 buah rasio yang lazim digunakan dalam menganalisa
keuangan pribadi ataupun keluarga, yaitu:
- Rasio Likuiditas
- Rasio Aset Likuid terhadap Kekayaan Bersih
- Rasio Tabungan
- Rasio Perbandingan Nilai Bersih Aset Investasi terhadap
Nilai Bersih Kekayaan
- Rasio Perbandingan Hutang Terhadap Asset
- Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang
- Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang Non Hipotek
- Rasio Solvabilitas

Rasio-rasio ini dapat mendeteksi penyakit-penyakit finansial
seperti:
- Resiko kekurangan uang kas
- Terlalu banyak hutang
- Terlalu boros atau terlalu pelit
- Gejala kebangkrutan

Dalam kesempatan ini saya tidak sempat membahas kedelapan rasio yang ada, namun sebagai contoh mari kita ambil salah satu rasio yang mudah dan menarik, yaitu rasio tabungan. Rasio tabungan menunjukan seberapa banyak dari pendapatan Anda yang dapat Anda tabung atau investasikan. Cara menghitungnya cukup sederhana, yaitu bagikan jumlah uang yang berhasil Anda tabung dengan total pendapatan Anda.

Sebagai contoh, misalkan Mr.X mendapatkan gaji sebesar Rp. 6.000.000,-.
Dalam bulan tersebut, Mr.X menabung sebesar Rp. 300.000,-. Maka rasio
tabungan Mr.X adalah:
= Rp. 300.000,- / Rp. 6.000.000,- * 100%
= 5%

Angka yang normal untuk rasio tabungan adalah 10%-30%. Rasio Mr.X berada dibawah normal, artinya Mr.X tidak pandai menabung alias terlalu boros. Dengan menyadari bahwa rasio tabungannnya terlalu rendah, diharapkan Mr.X dapat lebih berhati-hati dalam berbelanja di bulan berikutnya sehingga lebih banyak uang yang bisa ditabung.

Yang menarik juga dari rasio tabungan adalah, ternyata ada orang-orang yang menabung lebih besar dari 30% total pendapatannya. Dan yang lebih menariknya lagi, ternyata dalam ilmu keuangan, orang-orang seperti ini ternyata tidak sehat secara finansial. Mengapa?
Karena terlalu hemat, hingga akhirnya malah menjadi terlalu pelit.
Orang-orang seperti ini tidak pernah menikmati uang yang telah
secara susah payah dikumpulkan olehnya.

Jadi disini yang perlu Anda ingat adalah bahwa dalam mengelola keuangan, Anda harus bisa menyisihkan sebagian pendapatan Anda untuk digunakan di masa depan. Minimal adalah 10%. Namun, disisi lain, Anda juga harus bisa menikmati uang yang telah berhasil Anda dapatkan. Jangan semuanya disimpan buat masa depan. Jadi nilai maksimal yang sebaiknya ditabung adalah 30% dari total pendapatan Anda.

Panduan Check-Up Finansial

Untuk membantu Anda menganalisa kondisi keuangan sekarang, saya telah menyediakan panduan "Check-Up Finansial". Panduan ini dengan lebih detil menjelaskan step-by-step cara membuat laporan
kekayaan bersih dan laporan arus kas.

Agar mempermudah Anda untuk melaksanakan tahap ini,saya bahkan sudah menyiapkan Worksheet Excel yang siap untuk dipakai.
Anda tinggal memasukan angka-angka ke dalam laporan dalam worksheet, dan dalam waktu singkat worksheet akan menampilkan rasio-rasio keuangan Anda. Setiap rasio akan diikuti dengan nilai normalnya, sehingga
Anda dapat dengan cepat menangkap apakah keuangan Anda dalam kondisi normal atau
dalam kondisi beresiko.

Bahkan, apabila Anda masih kurang mengerti atau masih ragu mengenai hasil analisa worksheet ini, saya akan membantu Anda. Setiap pembeli panduan saya mendapatkan bonus GRATIS satu kali konsultasi analisa keuangan. Kirimkan worksheet ini ke email saya. Saya akan menganalisakan keuangan
Anda.

Bagaimana cara mendapatkan panduan Check-Up Finansial ini? Panduan ini bisa Anda
dapatkan secara GRATIS apabila Anda membeli ebook utama kami di:
www.keuanganpribadi.com

Bukan itu saja, kami bahkan menyediakan 2 buah ebook lainnya
yang berjudul "Tips dan Trik Membuat Rencana Keuangan Pribadi
Menggunakan Excel" dan "Panduan Investasi ORI-002" untuk membantu
Bapak Firdaus Bangun dalam mengelola keuangan Anda.